Yudisium Ke-2 Teknik Sipil ITS NU Sriwijaya Sumsel: Lulusan Didorong Jadi Profesional Berintegritas

PALEMBANG, 31 Agustus 2026— Kelulusan bukanlah garis akhir dari pendidikan tinggi. Justru setelah gelar akademik disandang, tantangan sesungguhnya dimulai: bagaimana ilmu yang diperoleh di kampus dapat diterjemahkan menjadi karya, solusi, dan manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut menjadi ruh dalam Yudisium Ke-2 Program Studi Teknik Sipil Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITS NU) Sriwijaya Sumatera Selatan yang dilaksanakan pada Senin, 31 Agustus 2026. Prosesi berlangsung khidmat dengan dihadiri jajaran pimpinan, dosen, serta sivitas akademika ITS NU Sriwijaya Sumatera Selatan.

Prosesi yudisium dipimpin langsung oleh Rektor ITS NU Sriwijaya Prof. Dr. H. Zainal Effendi, S.H., M.M., DBA., bersama Wakil Rektor I Prof. Dr. RR. Rina Antasari, S.H., M.Hum. dan Wakil Rektor II Dr. Drs. H. Jumari Iswadi, M.M.

Turut hadir Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Raden Fatah Palembang Prof. Dr. H. Munir, M.Ag., para dosen, dan sivitas akademika ITS NU Sriwijaya.

Dalam sambutannya, Prof. Zainal Effendi mengingatkan para lulusan bahwa gelar akademik merupakan hasil dari sebuah proses, bukan tujuan terakhir pendidikan.

Menurutnya, lulusan perguruan tinggi harus mampu membuktikan kualitas dirinya melalui kompetensi dan integritas ketika memasuki dunia profesional maupun kehidupan bermasyarakat.

“Jangan berhenti pada kebanggaan memperoleh gelar. Setelah hari ini, masyarakat akan menilai saudara bukan dari apa yang tertulis di ijazah, tetapi dari apa yang mampu saudara kerjakan dan seberapa besar manfaat yang dapat saudara berikan. Jadikan ilmu sebagai kekuatan untuk berkarya dan integritas sebagai kompas dalam setiap keputusan.”

Prof. Zainal menegaskan, pesan tersebut memiliki arti penting bagi lulusan Teknik Sipil. Dunia konstruksi dan infrastruktur berkaitan erat dengan keselamatan manusia serta kepentingan publik. Karena itu, kemampuan teknis harus berjalan seiring dengan tanggung jawab profesi.

“Seorang sarjana Teknik Sipil tidak boleh hanya pandai menghitung, merancang, dan membangun. Ia juga harus memahami bahwa setiap keputusan teknis menyangkut keselamatan dan kehidupan banyak orang. Kompetensi membuat saudara mampu bekerja, tetapi integritas menentukan apakah pekerjaan itu layak dipercaya.”

Ia berharap para lulusan terus mengembangkan kemampuan, mengikuti perkembangan teknologi, dan tidak berhenti belajar setelah meninggalkan bangku kuliah.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Munir, M.Ag. menyampaikan bahwa pengembangan pendidikan tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan lulusan.

Menurutnya, pendidikan harus mampu membentuk generasi yang memiliki kapasitas keilmuan, daya saing, akhlak, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

“Ilmunya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ilmu harus menjadi jalan pengabdian. Kita ingin generasi Nahdliyin hadir sebagai manusia yang unggul secara keilmuan, kuat secara karakter, dan nyata kemanfaatannya bagi umat, masyarakat, dan bangsa.”

Ia juga menilai perguruan tinggi NU perlu terus memperkuat kualitas akademik agar lulusan mampu berhadapan dengan perubahan zaman, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja.

Yudisium Ke-2 Program Studi Teknik Sipil ITS NU Sriwijaya menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan akademik institusi. Bagi para lulusan, hari tersebut menjadi pintu menuju fase baru yang menuntut kemampuan untuk mengimplementasikan pengetahuan dalam situasi nyata.

Di dunia profesional, lulusan akan berhadapan dengan persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Mereka dituntut mampu berpikir kritis, mengambil keputusan, bekerja sama, beradaptasi dengan teknologi, sekaligus mempertahankan standar etika profesi.

Karena itu, ITS NU Sriwijaya mendorong para lulusan untuk tidak sekadar menjadi tenaga profesional yang mampu bekerja, tetapi menjadi pribadi yang kompeten, dapat dipercaya, dan memberikan dampak positif.

Yudisium pada akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang telah menyelesaikan pendidikan. Ia adalah tentang siapa yang siap menggunakan pendidikan tersebut untuk menghadapi persoalan kehidupan.

Para lulusan Teknik Sipil ITS NU Sriwijaya kini membawa gelar baru. Namun lebih dari itu, mereka membawa nama almamater, nilai-nilai pendidikan, serta tanggung jawab untuk menjadikan ilmu yang dimiliki sebagai bagian dari solusi bagi masyarakat.