Ulasan Interview Ketua BEM ITS NU Sriwijaya
Bersama M. Alfi Nuryansyah
Interview dengan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS NU Sriwijaya, M. Alfi Nuryansayah, memberikan gambaran komprehensif mengenai latar belakang berdirinya organisasi BEM serta arah gerak mahasiswa di lingkungan kampus yang berlandaskan nilai-nilai Nahdlatul Ulama (NU) dan tantangan perkembangan teknologi di masa depan.
Latar Belakang Berdirinya BEM ITS NU Sriwijaya
Dalam pemaparannya, M. Alfi Nuryansayah menjelaskan bahwa berdirinya BEM ITS NU Sriwijaya dilandasi oleh kebutuhan akan wadah resmi mahasiswa yang mampu menyalurkan aspirasi, mengembangkan potensi, serta membentuk karakter kepemimpinan yang berlandaskan nilai keislaman moderat. BEM tidak hanya diposisikan sebagai organisasi struktural kemahasiswaan, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan sosial di lingkungan kampus dan masyarakat.
BEM ITS NU Sriwijaya hadir untuk menjawab tantangan zaman, di mana mahasiswa dituntut tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, integritas moral, dan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Visi dan Misi: Ahlussunnah wal Jamaah dan Tantangan Teknologi
Visi dan misi BEM ITS NU Sriwijaya secara khas menggabungkan nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dengan semangat inovasi dan kemajuan teknologi. Menurut M. Alfi, Aswaja menjadi fondasi utama dalam membentuk pola pikir mahasiswa yang moderat (tawassuth), seimbang (tawazun), toleran (tasamuh), dan adil (i’tidal).
Nilai-nilai tersebut kemudian diintegrasikan dengan penguasaan teknologi dan literasi digital agar mahasiswa NU tidak tertinggal dalam menghadapi era digitalisasi. BEM mendorong mahasiswa untuk cakap teknologi, kreatif, dan inovatif, namun tetap berpegang teguh pada etika, moral, dan nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.
Latar Belakang Historis dan Filosofis Nahdlatul Ulama
Secara historis, Nahdlatul Ulama didirikan pada tahun 1926 oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagai respons terhadap tantangan sosial, keagamaan, dan kolonialisme pada masa itu. NU hadir untuk menjaga tradisi keislaman yang berpijak pada Al-Qur’an, Hadis, ijma’, dan qiyas, sekaligus menghargai kearifan lokal dan budaya Nusantara.
Secara filosofis, NU mengedepankan Islam yang moderat, inklusif, dan kontekstual. Prinsip “al-muhafazhah ‘ala al-qadim as-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah” (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik) menjadi landasan utama dalam menghadapi perubahan zaman. Nilai filosofis inilah yang kemudian diadopsi oleh BEM ITS NU Sriwijaya dalam menjalankan roda organisasi.
Melalui interview ini, terlihat jelas bahwa BEM ITS NU Sriwijaya tidak hanya berorientasi pada kegiatan kemahasiswaan semata, tetapi juga memiliki visi besar dalam membentuk mahasiswa yang berkarakter Aswaja, berjiwa kepemimpinan, serta siap menghadapi tantangan teknologi di masa depan. Kepemimpinan M. Alfi Nuryansyah mencerminkan semangat integrasi antara nilai tradisi NU dan inovasi modern, yang diharapkan mampu melahirkan generasi mahasiswa NU yang unggul, berakhlak, dan berdaya saing global.