Palembang, 28 Agustus 2026 — Kepedulian terhadap kondisi masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui aksi besar. Di tengah kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Selatan, mahasiswa memilih turun langsung ke jalan untuk melakukan langkah sederhana namun berarti: membagikan masker kepada masyarakat.
Aksi bertajuk “Aksi Peduli Sumsel: Berbagi Masker, Menjaga Bersama” tersebut digelar pada Jumat, 28 Agustus 2026. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Sriwijaya (ITS NU Sriwijaya) turut ambil bagian dalam gerakan solidaritas tersebut bersama sejumlah BEM perguruan tinggi di Sumatera Selatan.
Para mahasiswa turun ke sejumlah titik aktivitas masyarakat untuk membagikan masker kepada pengendara, pengguna jalan, serta masyarakat yang beraktivitas di ruang terbuka. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa persoalan kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat.
Aksi tersebut sekaligus menjadi bentuk respons mahasiswa terhadap kondisi yang sedang dihadapi masyarakat Sumatera Selatan. Masker yang dibagikan diharapkan dapat membantu masyarakat mengurangi paparan langsung terhadap udara yang tercemar selama beraktivitas di luar ruangan.
Ketua BEM ITS NU Sriwijaya, M. Alfi Nuryansyah, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam aksi tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian sekaligus solidaritas terhadap masyarakat yang terdampak kondisi kabut asap.
“Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton ketika masyarakat sedang menghadapi persoalan. Melalui aksi sederhana ini, kami ingin hadir dan menunjukkan bahwa kepedulian bisa dimulai dari hal kecil. Satu masker mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dibagikan bersama-sama, itu menjadi pesan bahwa kita tidak menghadapi kondisi ini sendirian. Sumsel adalah rumah kita bersama, dan menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama.”
Menurut Alfi, aksi berbagi masker juga memiliki makna edukatif. Masyarakat diingatkan untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan ketika kualitas udara menurun, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap dampak buruk polusi udara.
“Yang kami bagikan bukan hanya masker, tetapi juga kesadaran. Kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi udara di sekitarnya, menjaga kesehatan, dan bersama-sama membangun kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.
Keterlibatan sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Selatan turut memperkuat pesan solidaritas dalam kegiatan tersebut. Perbedaan kampus dan latar belakang organisasi tidak menjadi sekat ketika persoalan yang dihadapi menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Bagi BEM ITS NU Sriwijaya, momentum tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menjalankan salah satu peran pentingnya di tengah masyarakat: hadir, merespons, dan mengambil bagian dalam persoalan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar.
Aksi “Peduli Sumsel” juga memperlihatkan bahwa gerakan mahasiswa tidak selalu harus hadir dalam bentuk diskusi, seminar, maupun kegiatan akademik. Turun langsung ke ruang publik dan berinteraksi dengan masyarakat merupakan bagian dari proses membangun kepekaan sosial sekaligus memperkuat karakter mahasiswa sebagai generasi yang memiliki kepedulian terhadap daerahnya.
Melalui gerakan berbagi masker tersebut, BEM ITS NU Sriwijaya berharap semangat gotong royong dan kepedulian antarmasyarakat terus tumbuh. Sebab, ketika persoalan lingkungan mulai berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari, menjaga kesehatan dan keselamatan bukan lagi menjadi tanggung jawab individu semata, melainkan menjadi kepedulian bersama.
“Kami berharap aksi ini tidak berhenti pada pembagian masker. Lebih jauh, kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan, menjaga kesehatan, dan saling melindungi adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai masyarakat Sumatera Selatan,” tutur Alfi.
Aksi tersebut pun menjadi simbol bahwa di tengah pekatnya kabut asap, masih ada kepedulian yang terus dinyalakan. Dari tangan mahasiswa, masker berpindah kepada masyarakat—membawa pesan sederhana: "saling menjaga adalah cara bersama untuk menghadapi kondisi sulit."